Sejarah Atau Asal Mula Gunung Semeru
Kali ini
saya menulis tentang sejarah atau asal mula Gunung Semeru. Banyak wisatawan
yang kurang mengetahui asal mu-asal tempat yang dikunjunginya, oleh sebab itu
disini saya memaparkan cerita rakyat menurut warga sekitar tentang asal mula
Gunung Semeru. langsung aja ke cerita yuk Pulau Jawa pada zaman itu
masih bergoyang-goyang, selalu bergerak mengguncang-guncang, karena belum ada
penindihnya.
Oleh karena itu Bhatara Guru mencari alat untuk menguatkan Pulau
Jawa supaya tetap kuat. Kemudian Bhatara Guru bertapa di Gunung Hyang (Gunung
Dewa, Gunung Dieng sekarang), berdiri menghadap ke timur, kemudian diputarlah
air sampai menjadi busa, lalu menjadi gunung. Tanah yang dipijak oleh kaki
Bhatara kelak menjadi Gunung Limohan. Kemudian Pulau Jawa sudah tidak kuat
lagi, selalu bergerak berguncang-guncang. Kemudian Bhatara Parameswara (nama
lain Bhatara Guru) memerintahkan kepada para dewata menghentikan penciptaan
dunia. Maka pulanglah mereka ke sorganya masing-masing. Adapun manusia di Pulau
Jawa semakin lama semakin bertambah banyak. Melihat keadaan Pulau Jawa para
Dewa merasa sangat prihatin. Itu sebabnya, dengan berbondong-bondong para dewa
menghadap Bhatara Guru yang menjadi pemimpin mereka. Semua dewata, para resi,
para pahlawan, para bidadari, para gandarwa, semua berhimpun dan sujud di kaki
Bhatara Mahakarana. Setelah mereka berbuat sembah, mereka duduk bersila
berderet menghadap ke Bhatara Guru.
”Sampai sekarang Pulau Jawa masih terus
bergoyang kalau tidak segera diatasi, pulau itu selamanya tidak akan ditempati.
Karena itu, mohon Pukulun (Tuan) memikirkannya,” kata Dewa Wisnu. Sesuai dengan
hasil semadinya di Gunung Dihyang Bhatara Guru telah menemukan cara mengatasi
hal itu. “Satu-satunya cara untuk membuat Pulau Jawa kokoh dan tidak bergoyang adalah
dengan memberinya pasak. Karena itu pergilah ke Jambudwipa (India). Potonglah
Gunung Mandara separuhnya dan ambillah puncak Mahameru untuk dijadikan pasak
Pulau Jawa,” ujar Bhatara Guru. “Mohon ampun, Pukulun. Gunung Mandara itu
sangat tinggi, puncaknya yang bernama Mahameru sampai menyentuh langit. Jadi,
meskipun diambil separuhnya, tetap saja sangat besar dan terlalu berat untuk
diangkat serta dipindahkan. Mana mungkin di antara kami ada yang mampu
melaksanakan tugas tersebut?” kata Bhatara Bayu. “Sebesar dan seberat apapun
suatu pekerjaan, akan menjadi lebih mudah dan terasa lebih ringan bila
dikerjakan bersama-sama. Itu sebabnya, kalian harus berangkat bersama-sama dan
bergotong-royong untuk menyelesaikan pekerjaan ini”, perintah Bhatara Guru. Tanpa
menunggu waktu lebih lama lagi berangkatlah para dewa ke Negeri Jambudwipa.
Mereka bahu-membahu memotong Gunung Mandara menjadi dua. Setelah puncak
Mahameru berhasil didapatkan, barulah para dewa itu membagi tugas untuk
membawanya ke Pulau Jawa. Mula-mula, Bhatara Brahma yang mengubah dirinya
menjadi kura-kura raksasa. Kura-kura yang besarnya tiada terkira itu dijadikan
alas untuk meletakkan Mahameru. Kemudian Bhatara Bayu, sang dewa kekuatan
mengangkat Mahameru dengan dibantu dewa yang lain, dan meletakkannya di
punggung kura-kura. Setelah itu Bhatara Wisnu mengubah diri menjadi naga
raksasa yang panjangnya tidak terjangkau mata. Naga raksasa itu membelit
Mahameru agar tidak sampai terjatuh selama dalam perjalanan. Di perjalanan para
dewa yang kelelahan membawa Mahameru, merasa sangat kehausan. Mereka melihat
ada air yang sangat jernih keluar dari Mahameru yang dibawanya. Para dewa yang
menempuh perjalanan yang sangat jauh, segera berebut mengambilnya. Mereka ingin
menghapus dahaga dengan meminum air tersebut. Mereka tidak sadar bahwa air itu
sebenarnya adalah air racun Kalakuta yang mematikan. Sesaat setelah meminumnya,
para dewa itu menemui ajalnya. Tidak berapa lama kemudian, Bhatara Guru datang
untuk melihat kerja para dewa. Betapa terkejutnya pemimpin para dewa itu,
mengetahui anak buahnya sudah terbujur kaku tidak bernyawa. “Ah, semua dewata
mati. Apa sebabnya mereka mati?” kata Bhatara Guru dalam hati. Setelah melihat
keadaan sekeliling, Bhatara Guru mencurigai air yang mengalir dari puncak
Mahamerulah yang menjadi penyebab kematian para dewa. Untuk membuktikannya,
Bhatara Guru meneguk air racun Kalakuta itu.
Ternyata benar, begitu melewati
tenggorokan, leher Bhatara Guru seketika bagai terbakar. Bhatara Guru pun
memuntahkannya. Namun sudah terlambat, meski berhasil dimuntahkan, leher
Bhatara Guru sudah terlanjur terbakar dan tak bisa disembuhkan. Akibatnya, pada
leher Bhatara Guru terdapat tanda hitam yang tidak dapat dihilangkan. Sejak
saat itu, Bhatara Guru mendapat sebutan Bhatara Nilakanta yang artinya leher
hitam. “Ganas sekali racun Mahameru ini. Pantas bila para dewa langsung menemui
ajal begitu meminumnya,” guman Batara Guru. Akhirnya, dengan kesaktian yang
dimiliki, Bhatara Guru mengubah air racun Kalakuta menjadi air suci pangkal
kehidupan. Air itu diberi nama Tirtha Kamandalu. Tirtha Kamandalu itu segera
disiramkan ke semua jasad para dewa. Ajaib! Begitu tersentuh Tirtha Kamandalu,
para Dewa langsung hidup sebagaimana keadaan semula. Maka Bhatara Guru berkata:
“Kini bawalah kembali Sang Hyang Mandaragiri (nama lain Mahameru) sampai ke
Pulau Jawa, hai anak-anakku.” Maka para raksasa dikerahkan untuk membantu para
dewata. Gunung Mandara diangkat, kemudian sampailah mereka ke sisi sebelah
barat Pulau Jawa. Nampaklah Mahameru bercahaya cemerlang, oleh karena itu
Gunung Mahameru dinamakan juga Kelasaparwata. Lalu ditancapkanlah di sebelah
barat Pulau Jawa sebagai paku. Namun yang terjadi adalah Pulau Jawa terjungkit
dan sebelah timur Pulau Jawa terangkat ke atas. Tunggul sisanya hanya ada di
sisi barat, oleh karena itu nanti akan ada Gunung Kailasa, tunggulnya Sang
Hyang Mahameru. Akhirnya puncaknya Mahameru dipindahkan ke sebelah timur,
diangkat bersama-sama oleh para dewata. Dalam perjalanan pemindahan gunung
tersebut bagian Mahameru berguguran menjadi gunung-gunung yang berjajar
sepanjang Pulau Jawa antara lain, Gunung Katong (Lawu), Wilis, Kampud (Kelud),
Kawi, Arjuna (Arjuno), dan Gunung Kemukus (Welirang). Tubuh Mahameru rusak
bagian bawahnya karena runtuh maka miring berdirinya, bergerak-geraklah
puncaknya. Lalu puncak Mahameru diberdirikan oleh para dewata.
Demikianlah
Mahameru tidak kuat dan bersandar di Gunung Brahma. Kemudian puncak yang
tersisa ditancapkan berupa Gunung Semeru, dari kata Mahameru. Ketika Gunung
Mahameru sudah ditaruh di bagian timur, Pulau Jawa tetap saja miring. Sehingga
para Dewa memutuskan memotong bagian gunung dan ditempatkan di bagian barat
laut. Penggalan Mahameru itu menjadi Gunung Pawitra (artinya Gunung Suci) dan
sekarang lebih dikenal sebagai Gunung Penanggungan. Oleh karena diperteguh pada
Gunung Brahma, Pulau Jawa menjadi kuat, berhentilah dia bergerak dan bergoyang
maka Gunung Mahameru disebut juga dengan Gunung Misada. Mulai saat itu Pulau
Jawa menjadi tenang kedudukannya seperti sekarang ini. Ketika Sang Hyang Siwa
datang ke Pulau Jawa dilihatnya banyak tanaman Jawawut, sehingga akhirnya pulau
yang ditempati Gunung Mahameru itu dinamakan Pulau Jawa. Bagian utama Gunung
Mahameru dijadikan bersemayamnya Dewa Siwa dan sekarang lebih dikenal dengan
nama Gunung Semeru.







Tidak ada komentar:
Posting Komentar